Showing posts with label parent. Show all posts
Showing posts with label parent. Show all posts
0

Give another try


pancake again?! hahahaa.. actually my first-pancake wasn't sucess, it didn't have volume and hard to handle just like omelete too slight, and much easier to make scramble, eheee... okay let say that was pityful pancake, what's wrong? another day, without recipe, without measure I combine the ingredients and tadaaaa... the looks meet expectation, pluffy and had volume, delicious, hummm not bad, Onion Icons but actually I'm not talking about pancake anyway, I'm talking about Trying. Well, actually I get easily depressed and hide it when something not goin' my way. Pretending that was okay is too painful, and hard, but the hardest one is move and give another try to your self, trust your self that you can make it someday. As time goes by, I should learn what I had yesterday and today. I remember the first time I get frustated is on senior high school, when my friend and I apply the same university, STT Telkom, bandung... too bad, I was failed and my friend was accepted. that time just like the end of the day, it was a big hit for me, my heart broken, I cried as loud as I can, my parents can help when I cry, hahaha... I cry for them actually, that time I think I was failed to make them proud of their only child. until my dad said "it's okay, stop crying,!!" with angry. I stop crying. Thanks for my beloved people around me, for understanding and keep pushing me move forward, on the next time I apply for STMB Telkom bandung, and accepted :-) the day I have to move to bandung is the day when SPMB issue the result, my mom insist me to check the result and... I accepted in state university, IPB. that time, once again... I get confused, for my mom it's actually no choice IPB much better than Telkom, I knew it. The problem come when I doubt my ability to struggle in state university, I might not be the best... but in private university, I might able to reach it, feels like sit in 2 chairs and ready to fall, maybe I already told it on my previous post I decided IPB. I don't care about "farmer", "spades", word, some people underestimate agriculture, agriculture related to uneducated works, "why don't you go to higher education, while in the ends you do the un-edicated work?" someone who said that must be regret, regret for his bad-thought of agriculture, don't you think that agriculture needs more science to improved our daily-basic-needs? you must be proud of them who had visionary thoughts like that, nah?!
okay, the first year on IPB goin well, my expectation not being the best accomplished, that's the way it is.. But it's okay, being average, and can survive there. The problem came when I choose major of university (choosen at 2nd year) I was accepted on soil science, again.. I was sooo disapointed, angry, frustated with question mark in head "why?" that's not what I want!! can I make it?! a-18years-old-girl crying helplessly in front of her mom, out of control because I didn't get what I want, I'm sorry to make you sad mom...sad because crying so loud in front of you and never listen what you said to me that time, I realized that there's no use while I made my parents confused... hahahhhaaa, silly, but it's true, soil science is my 5th choice of 32 list of majors. Onion Icons ah, that was what I want? I dunno... ha-ha-ha
In the end, I studied on my major hapilly, easily, and more specific, unique than other, though it takes 9 smesters to finished it, thanks for my parents not to burden me with their perfection, still give their time, love, and patience... I love you, you are the best parents in the world, ever!
Graduated, it's not about state/private university, it's not about choosing one major of 32, you can cry if you can't get it.. but to choose your career among 1000 choice, there's no time to 22-years-old-girl crying in front of her mom, it's part of real life... makes each pieces as path of what you achive....it's just like...making pancake, however the unsucessfull shape bring you into the perfect shape as your wish,

Ungkapkan Saja...(part II)

pertanyaan yang sering saya hindari belakangan ini, dan jadi masalah buat saya belakangan ini :

udah kerja, dimana?
udah lulus?
kapan wisuda?
kapan sidang?
kapan seminar?

lama-lama saya bisa frustasi sendiri jawabnya, dimulai dari jawab yg serius sampe dibercandain udah dicoba, tapi dua2nya sama2 ngebohongin diri saya sendiri, dalam hati saya miris banget ngeliat temen2 yang udah ngelewatin fase itu, belum lagi ngejelasin satu2 kenapa begini begitunya...bikin naik darah, mau marah...tapi sama siapa? siapa yang salah? dosen saya? atau saya? apa itu yang saya mau?
ga semua orang ngerti kenapanya, keliatannya saya ini nyantai amat, udah 9 smester ga lulus-lulus juga, ngapain aja si? kerjaannya tiap hari ke kampus... saya juga si mikirnya juga gitu dan belum ketemu alasannya, alasannya kenapa semua keliatannya sengaja ditunda-tunda, yang semuanya dihadapi dengan kepala panas, sampe dingin, bahkan beku sekalian, dari mulai yang lapang sampe sempit kayak gini,
walaupun orang tua saya ga pernah tanya (maksudnya ga mau membebani saya dengan pertanyaan seperti itu) dan bilang mengerti 100% sama keadaan saya sekarang, sampe tau postingan saya di ungkapkan saja saya tujukan buat siapa dan kenapa, tapi saya juga miris dengernya kalo papa bilang ke temennya atau orang lain "iya, anak saya kuliah di IPB, udah lulus", atau pertanyaan temen mama "ina udah di wisuda?kapan?" apalagi pertanyaan tetangga "ina udah kerja?" papa/mama saya jawab apa hayo? "belumm" sambil senyum hhhhh.... I hate to see it, apa rasanya jadi orang tua yang anaknya belum lulus juga padahal anak tetangganya yang seumuran udah lulus, padahal mereka mati2an mau nunjukkin kalo anaknya itu yang terbaik, mati2an menyampingkan semua urusan diatas pendidikan anaknya, tapi anaknya belum bisa apa-apa...




0

indecisive

saya anak tunggal, dan saya sangat sulit membuat keputusan.

Mungkin untuk sebagian orang statement tadi memiliki korelasi yang cukup kuat, karna biasanya si anak tunggal ini biasa dikendalikan oleh orang tuanya,semua perhatian tercurah untuk si anak dan si anak tinggal terima beres. Tapi posisi yang saya punya ini jauh berbeda, orang tua saya adalah orang tua yang luar biasa. Mereka memutuskan berkeluarga di usia muda (mungkin dimulai seumur saya sekarang ini), sampai sekarang mereka mempunyai cara sendiri untuk mendidik anak mereka, dan menurut saya berhasil. Meskipun saya anak tunggal, mereka memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada saya atas keputusan yang telah saya ambil. Contohnya ketika saya SD dulu, orang tua saya membiarkan saya nonton TV seharian atau main seharian, padahal besok saya harus ujian, orang tua saya cukup mengingatkan saya kalau besok ujian, tidak melarang atau menganjurkan saya main, bagaimana caranya nilai saya nanti bagus, karna menurut mereka saya main2 sebelum ujian adalah keputusan saya, dan saya harus mempertanggungjawabkan nilai saya nanti. it's fully my decision... sampai sekarangpun sampai saya kuliah orang tua saya tidak pernah melarang saya, ataupun memaksa saya harus memilih ini-itu yang baik menurut mereka. Perasaan saya agak sebel juga karna mereka terlalu netral, sampai2 saya berfikir mereka ini sebenarnya peduli sama saya atau tidak. Tapi dengan begini saya memiliki rasa tanggung jawab yang sangat besar dengan keputusan yg saya ambil sendiri, saya harap saya bisa belajar dari semua keputusan yang saya alami.

Sikap ini membuat saya menjadi orang yang bisa dikatakan kurang tegas, apa iya orang-orang disekitar saya terlalu sayang sama saya, karena setiap saya tanya pendapatnya, semua netral. Belakangan ini saya mengalami dilema yang cukup besar, saya benar2 tidak tau harus bagaimana, dan saya insist ada orang yang saya tanya punya satu jawaban dari masalah ini, bukan saran/pendapat lagi,
ini jawaban salah satu teman saya :
[P]
[N]
[D]
[R]
[2]
[L]
ini tuas yang ada di mobil matic", katanya, "sekarang lo ada di posisi netral, tinggal lo pindahin tuasnya, mau maju, mau mundur, lo pas-in posisisnya"
"kalo nabrak gimana? gw kan perlu orang disekitar gw sbagai spion, biar pas" kata saya
"biar lo rasain dulu, rasanya nabrak gimana, dengan begitu lo tau harus terus maju ato mundur" kata teman saya


saya anak tunggal, dan saya sangat sulit membuat keputusan.

sekarang saya sudah mengambil keputusan, dan saya sudah memindahkan tuas saya dari posisi [N], life must go on...


Back to Top